Kisah Telor Dadar
—————————-
“Omelette, eggs. No eggs, no omelettes. It depends on the quality of the eggs. In the supermarket you have eggs, class one, class two, class three,’ he said. ‘Some are more expensive than others, and some give you better omelettes. When the class one eggs are in Waitrose and you cannot go there, you have a problem.” – Mourinho on his Chelsea squad, three days before he parted company with the team, 17 [September 2007]
—————————-
Telor dadar. Sebuah makanan sederhana. Cara membuatnya pun tidak susah. Tinggal ambil telor satu biji atau lebih (tergantung seberapa parah perut anda memanggil-manggil), pecahkan, lalu kocok setelah dibubuhi garam secukupnya. Lantas goreng di atas wajan atau teflon. Tidak sampai sepuluh menit telor dadar pun siap untuk dihidangkan.
Tentunya kesederhanaan telor dadar tidak lantas membuatnya menjadi makanan yang terlupakan. At least buat gue dan surprisingly mantan pelatih Chelsea, Jose Mourinho. Seperti gue kutip di atas, dalam sebuah kesempatan press conference, Jose Mourinho secara tiba-tiba menggunakan perumpamaan sebuah telor dadar untuk menggambarkan kondisi para pemainnya. Chelsea bukan klub sembarangan. Pemiliknya, Roman Abramovich, termasuk barisan orang terkaya di dunia. Para pemainnya pun jelas-jelas termasuk yang termahal di kelasnya. Sebuah hal yang kontradiktif apabila mereka disejajarkan hanya dengan kesederhanaan telor dadar. Ini sebuah bukti bahwa telor dadar, at least di mata Jose Mourinho, adalah sebuah hal yang istimewa.
Similar dengan Jose Mourinho, tentunya dari perspektif yang berbeda, telor dadar juga menempati posisi yang istimewa di hati gue. Salah satu makanan favorit, hati gue dengan lantang mengatakan. Apakah kesederhanaannya yang membuat gue terpikat, atau memang lidah gue yang perlu dikalibrasi ulang, entahlah. Yang gue tahu pasti, sejak kecil gue sangat menggandrungi makanan sederhana yang satu ini.
Sebuah telor dadar, buat gue, harus memenuhi sejumlah standar yang membuatnya menjadi sajian yang lezat dan menarik. Tidak hanya dari jumlah garam yang dibubuhkan kepadanya, tetapi juga pada kontur warna yang menghiasi permukaannya. Yang terakhir menjadi sangat penting karena gue sangat tidak suka dengan kuning telor.
Untuk menghasilkan kontur warna yang menarik, telor dadar harus mengalami proses pengocokan yang relatif cukup lama. Sesuatu yang mungkin tidak semua orang sabar melakukannya. Atau mungkin lebih tepatnya, tidak semua orang menganggapnya penting. Itu juga yang acapkali terjadi pada nyokap waktu jaman gue SMA dulu. Masa itu, sarapan dengan nasi hangat dan sepotong telor dadar menjadi hal yang biasa gue lakukan sebelum berangkat ke sekolah. Seperti biasa semuanya disediakan oleh nyokap. Tetapi seringkali, inkonsistensi kontur warna permukaan telor dadar yang nyokap hasilkan terkadang membuat gue harus memakannya sambil menahan rasa mual. Kuning telor yang tidak terkocok dengan sempurna, tentunya masih akan menghasilkan bagian telor dadar yang tidak saja berwarna setajam kuning telor tetapi juga berasa se-eneg kuning telor. Sesuatu yang lidah gue tak kuasa untuk menerimanya.
Sampai suatu saat, pada momen yang tepat, gue melakukan invasi ke daerah strategis yang selama puluhan tahun berada di bawah pengaruh kekuasaan nyokap. Daerah kompor dan sekitarnya. Invasi tidak berdarah tersebut berhasil gue menangkan. Telor dadar “made in gue” pun tidak lama berhasil gue rilis. Tetapi tentunya setelah bolak-balik harus belajar dan berusaha keras, tidak saja pada bagaimana menghasilkan telor dadar yang gue mau akan tetapi juga bagaimana menyalakan dan mematikan kompor dengan benar. Maklum, waktu itu keluarga gue masih memakai kompor minyak tanah.
Kesederhanaan dan keremeh-temehan telor dadar tidak jarang juga menimbulkan perasaan sebal pada berbagai kesempatan di luar rumah. Kasus menyebalkan yang sering menimpa gue adalah saat memesan nasi goreng. Nasi goreng, pada dasarnya juga sebuah masakan sederhana. Nasi, campur bumbu-bumbu, campur telor, lantas digoreng. Cukup sederhana bukan. Tetapi setiap memesan nasi goreng, gue selalu memesannya dengan sebuah instruksi khusus ke si penjual. “N’tar telornya didadar aja ya…”, begitu isi instruksinya. Sembari duduk menunggu di meja, terbayang betapa lezatnya nasi goreng hangat dengan sepotong telor dadar gurih berminyak yang baru diangkat dari penggorengan. Tidak lama kemudian nasi goreng pun siap dan datang menghampiri meja gue. Apa yang gue temukan ? Telor ceplok ! Semua gambaran indah tentang lezatnya nasi goreng telor dadar yang menghiasi angan-angan gue hilang dalam sekejap. Berganti dengan perasaan sebal dan keki, terlebih saat melihat warna kuning menyala bagian kuning telor yang seolah sedang tertawa terbahak-bahak menantang lidah gue untuk memakannya.
Peristiwa seperti itu tidak sekali dua kali saja terjadi. Sampai gue pernah berpikir, apa orang-orang di sekitar gue sebegitu menganggap entengnya telor dadar sehingga mereka tidak lagi mempedulikan apa bedanya telor dadar dan telor ceplok. Bagaimana caranya membuat telor dadar berkesan luar biasa sehingga semua orang tahu akan bedanya. Atau paling tidak, ingat bahwa yang gue pesan adalah telor dadar dan bukan telor ceplok kalau memang lupa adalah penyebabnya.
Pernah dalam beberapa kesempatan, saat gue memesan nasi goreng dalam menyampaikan instruksi khusus gue sertai juga dengan bahasa tubuh. “Pak, n’tar telornya didadar aja ya…!”, sambil tangan gue memperagakan orang sedang mengocok telor. Ini pasti cara yang efektif. Tidak mungkin salah. Perbedaan mendasar antara telor dadar dengan telor ceplok adalah proses pengocokan. Dengan berbesar hati, terlebih saat melihat raut wajah penjual yang tampak memahami instruksi tersebut, gue duduk menunggu dengan tenang di meja. Saat nasi goreng datang apa yang gue temukan ? Lagi-lagi telor ceplok.
Akhirnya gue pun patah arang. Memesan nasi goreng telor dadar sekarang seperti layaknya mengadu nasib. Kalau lagi untung, telor dadar gurih lezat yang datang. Kalau lagi apes, gantian telor ceplok yang nongol. Untunglah selama beberapa bulan terakhir ini gue lebih sering untungnya dibanding apesnya. Apakah kebetulan saat itu gue memberikan intonasi bicara yang tegas dan menakut-nakuti saat mengucapkan instruksi khusus, atau kebetulan gue memberikan jeda bicara saat berdiri di hadapan si penjual untuk memberikan kesempatan ia melihat wajah serius & sangar gue dalam memberikan instruksi, atau mungkin si penjual kebetulan benar dalam perjudian di pikirannya, “Ah, perasaan bapak ini yang pesan telor dadar dan bukan ibu yang itu….”, entahlah.
Satu hal yang pasti, telor dadar akan selalu menempati tempat yang spesial di hati gue dengan berbagai kesederhanaan dan keremehtemehannya. Gue hanya berharap, semoga bukan hanya gue dan Jose Mourinho yang berpikir seperti itu.











mana skrinsyut telornya?. Karena tanpa skrinsyut semua adalah basbang.
jek, ntar gw dibikinin telor dadar bikinan elu ya..
hehe…. smenjak kost gue uda kagak pernah masak lagi men…. kagak disediain kompor…:)
jek….itu nasi goreng langgeng ya? he he he
inos : hehehe masing inget aja lu. Tp bukan men. Ini nasgor di salah satu ruko di dutamas…
Git ada kabar baru kel.cendana akan direkrut golkar ??/