Bubur Ayam Mas Kipli
Kalau anda pernah tinggal di Batam, anda pasti tahu yang namanya daerah Bengkong. Sebuah daerah yang bersebelahan dengan daerah Sei Panas dan Batu Ampar. Bengkong mempunyai sebuah jalan utama yang terhitung kecil, dan jalan tersebut sebelum mencapai daerah Batu Ampar akan melewati sebuah gang ke arah bukit menuju daerah pemukiman yang bernama Bengkong Dalam.
Di daerah Bengkong Dalam, tepatnya di perempatan Jalan Timor, anda akan dapat menemukan sebuah gerobak bubur ayam yang senantiasa mangkal di sana pada pagi hari. Letaknya persis berseberangan dengan pangkalan ojek.
Yang jual adalah seorang lelaki yang relatif masih muda. Namanya Mas Kipli. Paling tidak dilihat dari tulisan di gerobaknya.
Mas Kipli sudah cukup lama mangkal di situ. Beberapa tahun yang lalu saat gue masih tinggal di Bengkong Dalam, gue cukup sering sarapan pagi dengan bubur ayam hangatnya Mas Kipli.
“Dahar teng mriki (dimakan di sini), mas?”, tanya Mas Kipli sopan dalam bahasa Jawa halus saat gue memesan lagi bubur ayamnya. Beberapa hari yang lalu gue memang sengaja menyempatkan diri untuk menyambangi gerobaknya saat pulang kerja masuk malam. Mas Kipli menyambut hangat dengan senyum yang mengembang saat gue datang, bentuk keramahan yang tidak lekang dimakan waktu.
Tidak lama gue pun mulai menyantap satu mangkok bubur ayam dengan lahap. Hmmmm….rasanya masih lumayan sedap seperti dulu.
Gue jadi ingat, beberapa tahun yang lalu gerobak Mas Kipli sempat terjatuh dan dagangannya pada tumpah di jalan. Paling tidak itu yang gue dengar setelah gue perhatikan gerobak Mas Kipli tidak muncul di tempat mangkal selama beberapa hari. Saat ia kembali berjualan dan gue bertanya, jawaban Mas Kipli cukup sederhana. “Yah namanya juga musibah, mas…”, ujarnya. Senyumnya mengembang. Raut wajahnya menampakkan guratan keikhlasan yang tidak dibuat-buat.
Bubur ayam Mas Kipli memang tidak bisa dikatakan sangat istimewa. Bahkan bisa dibilang relatif sederhana. Apalagi jika dibandingkan dengan bubur ayam di rumah makan atau restoran yang juga menyajikan jeroan. Disamping itu, makan bubur ayam Mas Kipli berarti duduk di atas kursi plastik di pinggir jalan. Tanpa atap, tanpa meja, dan tanpa penutup pandangan. Menyatu dengan geliat kehidupan pagi di sekitar Bengkong Dalam.
Pelanggan bubur ayam Mas Kipli cukup bervariasi. Ada tukang ojek, ada sopir angkot, ada buruh pabrik, ada ibu rumah tangga, ada karyawan kantor, sesekali ada juga pelanggan yang memesan dari balik jendela mobil mewah. Tetapi bisa dikatakan sebagian besar memang berasal dari kaum de-jonk. Mungkin karena kawasan Bengkong memang didominasi oleh kalangan menengah ke bawah. Harga satu mangkok yang hanya Rp 3500 tentunya cukup terjangkau.
“Tambah, mas”, kata gue sambil meletakkan mangkok di atas tepi gerobaknya. Mas Kipli pun langsung bergegas mempersiapkan porsi berikutnya.
Ah, satu mangkok memang kurang untuk memenuhi hasrat rindu pada bubur ayamnya Mas Kipli.




wah..jadi agen bubur ya sekarang..
nice posting..
iya nih, nyambi. Tapi agen gratisan koq…^_^
emang asyik neh buburnya, dan harus dua makannya he he e
Inos : yo’i men. Kapan nih kita makan bareng di Mas Kipli…..hehe..
gw sih sebulan sekali pasti ke sono…. maklum tumpangan ada di bengkong….
ayo kapan kita ke sana
Mantap…hidup bubur ayam mas kipli..
inos : yg pasti pas gue libur dan lo ke bengkong….hehe..
mas ade jika : long life mas kipli….!
ane sabtu ini ke bengkong… mau nge- bubur gak minggu pagi jek?