Refleksi Satu Dasawarsa Reformasi
Bulan Mei depan tepat satu dasawarsa bangsa Indonesia menjalani era reformasi. Era yang ditandai dengan mundurnya Suharto sebagai presiden sekaligus mengakhiri masa pemerintahan rezim militer feodalistik yang berkuasa selama 32 tahun.
Bergudang-gudang harapan dan optimisme menyertai dimulainya era reformasi, dengan prolog naiknya Habibie sebagai presiden untuk mempersiapkan pemilu yang dipercepat, dan pukulan gong pembukaan dengan naiknya pasangan Gusdur dan Megawati sebagai presiden dan wakil presiden.
Sekarang, satu dasawarsa setelah itu, apakah yang bisa kita dapatkan sebagai warga bangsa dalam era reformasi ? Sejauh mana bergudang harapan dan optimisme yang tercurah setelah Suharto “lengser” dengan “legowo” bisa terealisasikan sampai saat ini ?
Sebuah hal yang ironis, satu dasawarsa era reformasi justru digarisbawahi oleh meninggalnya sang aktor utama orba, Suharto. Sampai hari mangkatnya, Suharto masih tidak tersentuh. Empat presiden telah berganti tetapi pemeriksaan terhadap kasus dugaan KKN keluarga Cendana enggan bergerak maju. Apakah meninggalnya Suharto justru akan membuat “keengganan” aparat pemerintah khususnya Jaksa Agung dan Kepolisian menguap dan berubah menjadi tekad kuat untuk memburu harta ahli waris Suharto dan para kroninya, perlu kita tunggu.
Berakhirnya era orba tidak lantas berarti berakhirnya budaya dan identitas orba yang penuh dengan KKN. Semakin lama malah menjadi semakin merajalela. Tidak hanya aparat pemerintah, lembaga negara perwakilan rakyat pun ikut dijangkiti penyakit KKN. Issue desentralisasi dan otonomi daerah ikut menyuburkan budaya KKN di daerah-daerah. Perilaku pungli pun menjangkiti bahkan pada aparat tingkat bawah.
Kesalahan dasar kebijakan ekonomi masa Suharto yang mengandalkan konglomerasi dengan harapan munculnya trickle down effect mungkin tidak pernah lagi diulangi. Akan tetapi keberpihakan kepada usaha kecil menengah tampak masih setengah-setengah. Konglomerasi masih mendapatkan “perlindungan” dan preferensi dari pemerintahan baru. Contoh nyata pada kasus BLBI.
Pemindahan strategi pembangunan ke bidang pertanian dan industri pertanian perlahan mulai dijalankan. Kegiatan ekspor berusaha ditingkatkan, meskipun terkadang nilai tukar rupiah masih juga berfluktuasi tidak stabil. Yang paling memprihatinkan tentunya adalah rasio laju inflasi dibanding pendapatan hidup rakyat. Harga-harga yang melambung dengan dalih mengikuti sistematika pasar sudah tidak mampu lagi ditanggung oleh sebagian besar rakyat yang notabene termasuk golongan ekonomi bawah. Pemerataan pembangunan yang diteriakkan mahasiswa pada aksi demonstrasi 1998 sampai saat ini faktanya masih jauh dari harapan.
Beban yang sangat besar pada anggaran belanja negara dalam bentuk subsidi akhirnya dilimpahkan kepada rakyat kecil. Belum lagi rakyat dipusingkan dengan meroketnya harga sembako, mereka harus kembali tertekan menghadapi berbagai kenaikan utamanya pada bahan bakar dan biaya pemakaian listrik yang lagi-lagi berujung pada melonjaknya harga barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari termasuk sembako.
Kondisi pertahanan dan keamanan pasca Suharto lengser harus diakui mengalami kemunduran. Seiring dengan munculnya radikalisme agama, terorisme merajalela. Kepolisian cukup menunjukkan awal kemajuan dengan itikad baik mengubah paradigma, bukan kepanjangan tangan penguasa untuk menghabisi rakyatnya sendiri. Tingkat pelayanan kepada masyarakat yang mungkin perlu terus-menerus dilakukan langkah perbaikan.
Konsep angkatan laut dan atau angkatan udara sebagai ujung tombak pengawalan wilayah kedaulatan negara juga sudah dimulai dengan penunjukkan seorang laksamana atau marsekal sebagai panglima TNI. Meskipun tentu saja pembelian atau perbaikan armada kapal dan pesawat tempur yang membutuhkan biaya luar biasa besar menjadi permasalahan lain.
Satu-satunya nilai plus, apabila itu bisa dianggap sebagai nilai plus, tentunya adalah kebebasan dalam berpolitik. Semua orang saat ini bebas berbicara, bebas berkumpul, bebas berpihak, tanpa merasa takut akan ancaman aparat. Sayangnya, kebebasan tersebut acapkali tidak disertai etika dan moralitas. Sesuatu yang tentunya cukup meresahkan para orang tua, sebuah tantangan membesarkan anaknya dalam era kebebasan tanpa etika dan moralitas.
Kebebasan berbicara juga disambut euphoria berlebihan oleh lembaga perwakilan rakyat. Lembaga yang seharusnya menjadi contoh dan panutan seluruh rakyat Indonesia hingga pantas mewakilinya, ternyata tidak mampu mengemban kepercayaan itu. Dari dugaan skandal korupsi, buang-buang anggaran dengan dalih studi banding ke negara lain, kenaikan gaji dan tunjangan berlipat-lipat sementara masih ada rakyatnya yang mati kelaparan (terakhir terjadi kemarin pada seorang ibu hamil dan anaknya yang masih kecil di Makasar), memanfaatkan jabatan untuk memperluas koneksi bisnis dan menambah kekayaan pribadi, bahkan sampai yang sangat memalukan seperti kegiatan perzinahan yang tersebar luas rekaman videonya.
Bakal seperti apa jadinya negara ini kita sama-sama tidak tahu. Sebagai sesama warga bangsa tentunya kita patut melakukan yang kita bisa. Kebaikan dari lingkup yang terkecil Insya Allah apabila dilakukan secara kolektif akan bisa membuahkan hal positif dalam skala yang besar.
Tentunya masih tertanam lekat di ingatan sebuah wacana yang didengungkan oleh mahasiswa pada tahun 1998. POTONG GENERASI ! Sebuah wacana yang tidak lebih dari utopia dalam benak idealisme mahasiswa. Tetapi dengan mempersiapkan adik-adik kita, anak-anak kita, termasuk kita sendiri, menjadi sebuah generasi yang tangguh dan bermoralitas tinggi mungkin kita masih bisa berharap bahwa suatu hari nanti, saat generasi yang masih terpolusi nilai-nilai orba dan euphoria reformasi telah puas memperkaya diri dan meletakkan rakyat sebagai pelengkap penderita akhirnya sampai pada titik habis, generasi baru siap menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa dari level tertinggi sampai terendah dengan sebuah sikap baru.
Mungkin kita perlu berdoa banyak-banyak agar diberi umur panjang untuk bisa menyaksikannya. Terlebih melihat kenyataan yang terjadi saat ini. Sepuluh tahun telah berlalu dan yang terjadi masih jauh dari berbagai gudang harapan yang menyertai mundurnya Suharto satu dasawarsa lalu. Apabila dalam satu dasawarsa berikutnya kita masih melihat hal yang sama, tidak usah berkecil hati. Tetaplah berusaha dari hal yang kecil, dari lingkup yang terkecil, dengan tetap berdoa mudah-mudahan negara dan bangsa ini selalu mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Sambil sesekali mengingat luar biasa beratnya perjuangan untuk sekedar mengibarkan merah putih di angkasa sebagai tanda kebesaran bangsa kita. Indonesia akan berbenah, Insya Allah.
==========================================
Pictures are taken from these following sites.
Tempointeraktif, Media Indonesia, Indonesia Media, Okezone, Antara, Suara Merdeka, Indonesia Update, TNI AL, Majalah Angkasa, Wikipedia, Indomedia, Swaramuslim.











kalo Amin Rais bersedia memimpin komite reformasi mungkin kondisinya akan beda
baca link berikut:
http://goblog.wordpress.com/2008/02/05/4-sumpah-pak-harto/
panggiring : seinget gue ide komite reformasi ga begitu populer di kalangan mhsiswa. Amien jg tahu kalo para reformis akan kalah duluan dgn pembentukan komite itu. Stelah “kumpulan” emha/gusdur/caknur/malikfajar/dll ktemu suharto dan ngasi press conference, kesan yg muncul di lingkungan kampus ampir seragam. Rata2x skeptis. Mana mgkin suharto ikut2xan dlm reformasi. Wong dia yg mau direformasi
Bila saja Amien Rais yang memimpin bangsa ini, bisa jadi reformasi akan bergerak sebagaimana mestinya. Insya allah.
dan pada akhirnya ? demikian juga kah ?
para elite bertarung merebut kekuasaan…
rakyat bertarung merebut sesuap nasi…
memang sungguh menyedihkan kondisi kita…
tapi di tengah2 itu tentu ada yang menjadi lebih baik kan…:)
semoga masa-masa penyesuaian terhadap kebebasan yg telah diraih cepat berakhir…
mmmmhh.. ngeliat perkembangan politik indonesia, yg ada gw ngerasa pesimis ma cita2 reformasi dulu.. benar.. sisi positif dr pengorbanan 10 thn yg lalu hanya kebebasan berbicara.. yg lain2?? kt masih terikat bayang2 orde baru dgn sangat kuat..
korupsi.. tetap mendarah daging.. nepotisme ttp ada bgt… yg dah pernah apply2 ke bumn/pegawai negeri pasti deh ngerasain kalo yg namanya nepotisme itu masih ada bgt..
dah mo pemilu lg nih thn depan.. mmhh.. semoga pemimpin yg terpilih benar2 bisa membawa aspirasi rakyat.. dan bisa menepati semua janji2 kampanyenya.. trus semoga anggota DPR yg terpilih nanti ga cuma bisa ngomong doank.. tp jg berpikir tuk masa depan bangsa.. ga cuma mikirin gmn tunjangan nambah terus.. dan benar2 mewakili aspirasi rakyat..
mmhh.. kapan yaah negara Indonesia tercinta ini bisa menjadi lebih baik..
well.. hayo.. benahin diri kita masing2 dulu.. kyk om john f kennedy pernah bilang “never ask what has your country gave yo, but please ask what has you given to your country”..
merdeka!!!
deni : terserah aja deh, siapapun pemimpinnya ga mslh yg penting bisa bawa bangsa ini jd bener
regsa : kita tunggu aja kali ya. Hope it’s worth to wait…
edipson : nice comment bro. Always stay positive…!
cheisa : ngelus dada yah ngeliatnya. Smoga dlm pemilu depan ada alternatif calon independen (eh, UU Pemilu uda ngga bolehin calon indie ya ?)
P.Iwan // Mar 5, 2008 at 7:28 pm
Git ada kabar baru kel.cendana akan direkrut golkar ??/
======
wah, kalo emang gitu ketauan deh Golkar Baru yg didengung2xkan Akbar Tandjung dulu ternyata cuman ganti kulit doank
met kenal yaa…
btw itu foto amrozi udah agak lawas ya?
senyumnya itu lho…
kalo skrg aku perhatikan di koran2 fotonya, senyumnya udah tidak selebar dulu,…
kan udah mau di eksekusi soalnya
joanne : met kenal juga buat Joanne. Thx uda mau visit :).
kyknya iya uda lawas, kalo ga salah pas masa2x pertama dia “ngetop” di media massa sbg the smilling bomber
saya heran, kenapa saya jadi pesimis ketika melihat masa depan bersama bangsa ini, kapan para pemimpin itu bener-bener tahu amanat,
siapapun pemimpimnya, serasa masih sulit, saya tidak menutup kemajuan yang ada, tapi seperti kita tahu, merekapun tak beranjak dari slogan omong doang!
yah, smoga yg terbaik aja yg menimpa bangsa ini…
kalo saya yang penting bisa beli susu buat anak-anak. silahkan mau tarung di dpr, mau bunuh-bunuhan di dpr tapi yang penting rakyat gak kelaparan. bisa gak ya?
yg bunuh2xan mgkin bisa, tapi yg rakyat ga kelaparan kyknya msh belon bisa…
OOT: kalo gak salah kemarin pas perspektif WW, namanya mas tigis disebutin, terkenal nih
oh ya? wah gue ga nonton tuh
Ya, betul.
:):):)
salam kenal
lam kenal balik, thx uda visit ya