Movie Review: 10.000 BC

10000-bc-1.jpg10000-bc-2.jpg10000-bc-3.jpg

10000-bc-4.jpg10000-bc-5.jpg10000-bc-6.jpg

Apakah yang dapat seorang pria lakukan demi cinta ? Segalanya. Dari hal yang sederhana sampai yang tak pernah terbayangkan. Dari sekedar memeras keringat sampai mempertaruhkan nyawa.

10.000 BC, film terbaru arahan sutradara kondang Roland Emmerich berkisah tentang hal itu. Film yang mencoba mengambil setting di masa prasejarah dengan berbagai fantasi tak beraturannya, sejak binatang Mammoth menjadi hewan buruan.

Tersebutlah D’leh, seorang laki-laki yang tumbuh dari suku terpencil Yagahl. Ia senantiasa dihina karena ayahnya dengan pengecut melarikan diri dari sukunya. Ibunya yang meninggal saat melahirkannya menjadikan D’leh seorang yatim piatu. Ia pun tumbuh menjadi seorang laki-laki yang gamang dan peragu.

Saat masih bocah D’leh bertemu dengan Evolet, bocah perempuan yang juga yatim piatu. Benih cinta D’leh dan Evolet pun bersemi, dan semakin membinar saat mereka remaja.

10000-bc-g.jpg10000-bc-h.jpg10000-bc-j.jpg

Suatu hari perkampungan suku Yagahl diserang oleh manusia yang ingin menjadikan mereka sebagai budak. Evolet ikut tertawan dan dibawa ke negeri lain. D’leh terpana. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanyalah seorang pecundang di sukunya. Cemooh dan hinaan dari teman seusianya sudah menjadi santapan tetap bagi D’leh. Sampai cinta menyadarkannya bahwa ia harus pergi dari kampung halamannya untuk menyelamatkan Evolet.

Petualangan D’leh mengikuti jejak Evolet membawanya ke sebuah negeri dimana penguasa lalim memperlakukan budak dengan semena-mena. Takdir D’leh menjadikannya sebagai lambang persatuan antar suku dan akhirnya menggerakkan perlawanan terhadap sang penguasa.

10000-bc-i.jpg10000-bc-a.jpg10000-bc-f.jpg

10.000 BC tidak terlalu istimewa sebagai film yang berusaha menggali dahysatnya kekuatan cinta. Karakter D’leh terkadang kurang interaktif saat bersama dengan Evolet. Khususnya pada paruh pertama durasi film. Hubungan emosional mereka terasa mengambang dan pasang surut.

Sifat gamang dan peragu D’leh cukup lumayan dibawakan oleh Steven Strait. Meskipun terkadang ia masih tampak “terlalu amerika” untuk membawakan karakter seseorang dari suku terpencil masa prasejarah. Sementara Evolet yang cantik tidak terlalu mengecewakan diperankan oleh aktris muda Camilla Belle.

Binatang Mammooth memang menjadi salah satu andalan penggambaran dunia fantasi prasejarah versi Emmerich yang ditampilkan film ini. Setelah nuansa dinginnya penggunungan dan lebatnya hutan tropis, pada paruh kedua penonton dibawa beranjak ke suasana padang pasir. Hasil kerja penataan artistik dan tentunya visual efek tampak cukup berhasil. Setting piramida raksasa sejenak membawa kita ke nuansa fantasi Mesir kuno. Tidak salah kalau 10.000 BC akhirnya mengingatkan kita pada film fantasi karya Roland Emmerich yang lain, Stargate.

10000-bc-c.jpg10000-bc-b.jpg

10000-bc-d.jpg10000-bc-e.jpg

Untuk berkisah tentang cinta memang tidak perlu repot-repot sampai harus terbang ke fantasi masa prasejarah. Emmerich pun tahu itu. Ia hanya lebih tahu bahwa kelebihan film-filmnya selama ini menghadirkan dunia spektakuler lewat ketrampilan visual efek tidak pernah mengecewakan. Sebut saja Independence Day, The Day After Tomorrow, Stargate, sampai yang cukup banyak dicela para critics, Godzilla. Tentunya menarik untuk menunggu kapan ia akan kembali menyutradarai film ala The Patriot yang cenderung sederhana, humanis, dan “miskin” visual efek. Ataupun film pure action dengan hanya sedikit unsur fiksi ilmiah seperti yang ia hadirkan lewat Universal Soldier.

Untuk menyimpulkan film ini, memang semua kembali pada premis yang tidak akan pernah lekang dimakan waktu. Demi cinta, seorang pria dapat melakukan apapun. Sebuah sisi mata uang yang mulia sekaligus irrasional pada diri seorang pria.

================================

Movie : 10.000 BC

Director : Roland Emmerich

Genre : fantasy, action, adventure

Actor/Actress : Steven Strait, Camilla Belle, Cliff Curtis, Joel Virgil, Mo Zinal, and Mona Hammond.

My rating : 3 out of 5 (***)

===============================

Posters are taken from this site

Pictures are taken from this site

Incoming search terms for the article:


9 Comments Add Yours ↓

  1. 1

    wah…
    sepertinya menarik nih filmnya..
    mau nonton ah…:)
    thanks buat referensi ceritanya…

  2. 2

    cinta emang ajaib membikin seorang pecundang menjadi pahlawan .

    Sangaar keliatan pileme.. :)

  3. 3

    edipson : ok men. Met nonton ya… :)

    regsa : namanya juga pilemmmm…. :)

  4. 4

    hah?
    cumah dikasi 3?
    gila dah.
    Ntar deh aku nonton dan aku review, soalnya 2 minggu ini aku nggak dapet tiketnya trus sie! :)
    Well aku rasa kok titik utama dari film ini bukan tentang cinta ya?
    Ntar deh kalau sudah liat aku kasih komen lagi. ;)

    wah keabisan tiket ya rupanya. Di sini pdhal yg nonton jarang lho…

  5. kocok #
    5

    film ini membuat diriku seakan-akan berada di masa prasejarah. dengan kisah cinta yang begitu kuat, film ini bisa menjadi panutan agar seseorang mau melakukan hal yang lebih untuk orang yang dicintainya

    Top abis neh film

    kasih bintang: *****

    hehe syukurlah kalo suka… :)

  6. 6

    Iya ya, nih film nuansa cinta-nya KUAT banget. Makanya saya suka ini pelem

    asik ya romancenya :)

  7. C Ronaldo #
    7

    busyet dah ini pelm di 21 mbatam kok belum di ganti2….. gua nunggu dvd nya aja ach, males mau ke bioskop..^_^

    iya nih men, pdhal 21 jakarta lumayan banyak pilem barat yg lagi diputer :(

  8. 8

    kalo menurut saya sih mboseni :) , alur gampang ditebak. ya sedikit kaget waktu tahu kalo penduduk diculik ntuk bikin piramid. yang jelas yang jadi evolet cantik :)

    betoel, paruh pertama memang mbosenin bgt. Betoel juga, yg jadi evolet cakep :)

  9. inos #
    9

    terus terang ini film garing banget, ceritanya gak kuat, and terlalu mengada-ada….. yang menolong cuman animasinya yang lumayan….

    sengtuzu pakde…



Your Comment