Kebebasan dan Indonesia

 traffic_lights.jpggarbage-1.jpgdog-pee-upside-down.jpg

Seorang rekan pernah bercerita tentang seorang kenalannya yang berkewarganegaraan Singapura. Kabarnya ia lebih memilih tinggal di Indonesia ketimbang di negaranya. Apa pasal. Bukankah di sana segala sesuatu serba tersedia. Masyarakatnya jauh lebih terpelajar. Kemudahan hidup dengan berbagai penunjang teknologi tingkat tinggi bisa ditemui dimana-mana. Pelayanan terhadap masyarakat pun jauh lebih berkualitas.

Ia hanya menjawab, karena di Indonesia saya bisa bebas melakukan apa saja. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.

Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” negara lain dengan alasan yang justru membuat negaranya memiliki kelebihan dibanding negara lain. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.  

Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan kebebasan hidup yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di negara kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus gue akui di negara ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.

Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, kulit duku, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral. Sebuah hal yang luar biasa apabila pemilik mobil mewah itu ternyata tidak terpelajar. Terlepas dari masalah kualitas otak, tampaknya bangsa Indonesia memang sudah sepakat menjadikan berpuluh ribu pulau wilayah kedaulatan bangsa sebagai tempat sampah terbesar di dunia. Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.

Gue juga jadi ingat pemandangan beberapa minggu yang lalu. Ada seorang tukang ojek yang dengan santainya (maaf) pipis di peruntukan lahan hijau sekeliling perumahan tempat gue tinggal. Tempat pipisnya pun tidak jauh dari perempatan yang padat oleh lalu lintas. Padahal ia bisa memacu motornya sebentar ke mall terdekat untuk mencari WC umum.

Sambil agak geli, sempat tergambar raut wajah almarhum bokap jaman gue SMA dulu saat di suatu pagi sambil bersungut-sungut ia mencoba membersihkan dan menghilangkan bau pesing pipis manusia yang menyengat di pagar depan rumah. Kebetulan rumah gue saat itu terletak berdekatan dengan tempat mangkal bus eksekutif antar propinsi yang selalu dipenuhi penumpang setiap malam. 

Tampaknya ada lagi sebuah kesepakatan di antara warga bangsa. Indonesia juga adalah WC umum terbesar di dunia. Kebelet pipis? Take your spot anywhere. Sebuah pelayanan masyarakat tingkat tinggi yang sangat menjunjung tinggi kebebasan asasi manusia untuk pipis. Gue yakin BAB sudah tercakup di dalamnya. 

Selama sekitar setahun tinggal di dekat perempatan padat lalu lintas gue juga cukup mengamati bagaimana kecenderungan perilaku para pengendara. Yang paling gue ambil pelajaran adalah kapan waktu terbaik anda menyeberang jalan di perempatan. Secara normatif, ada korelasi yang cukup erat antara lampu merah dengan laju kendaraan. Lampu merah menyala, kendaraan berhenti, anda bisa menyeberang dengan tenang. Bahkan tanpa harus toleh kiri-kanan.

Faktanya tidak. Lampu merah menyala ternyata tidak lantas membuat orang menghentikan atau memperlambat laju kendaraan. Hampir di setiap saat lampu merah menyala banyak kendaraan justru berebut menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk secepatnya mencapai ruas jalan berikutnya. Alih-alih memperlambat dan kemudian menghentikan laju kendaraan, lampu merah menyala ternyata justru menjadi kode bagi mereka untuk menginjak gas kencang-kencang.

Hanya ada satu pilihan bagi para penyeberang. Benar-benar melihat sendiri dan memastikan bahwa semua kendaraan sudah berhenti di depan mata sebelum menyeberang. Itupun belum menjamin keamanan. Karena acapkali sebagian kendaraan yang ”belok kiri boleh langsung” melakukannya tanpa menyalakan lampu sen.

Terkadang gue membayangkan diri menjadi seorang Clark Kent dan bisa bebas menyeberang tanpa harus melakukan itu semua. Kalau kendaraan mereka ringsek menabrak gue toh bukan gue yang salah. Gue tinggal terbang ke perempatan lain buat iseng-iseng melakukan hal yang sama. Sayang gue bukan Clark Kent.

Sebelum berlarut-larut dengan berbagai contoh yang lain, satu hal yang harus digarisbawahi. Mereka melakukannya dengan bebas tanpa konsekuensi apapun. Keliatannya konsekuensi baru muncul apabila ada nyawa yang melayang di perempatan. Atau ada pejabat pemerintah yang terganggu karena rumahnya bau pesing. Atau anggota DPR yang merasa pusing dengan bau sampah yang menyengat di lingkungannya.

Jadi apa kesimpulannya. Kalau anda adalah seorang opportunis, silakan nikmati “kebebasan” yang anda peroleh di negara ini. Tetapi kalau anda seorang idealis, tampaknya anda harus sering-sering melakukan terapi anger management.    

Incoming search terms for the article:


17 Comments Add Yours ↓

  1. 1

    sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia.

    jadi inget jaman SD :)

  2. 2

    not opportunis nor idealis

    skeptis apakabar?

    haha

    wah cerdas juga kamu Nat. Mustinya kalo dipikir lebih panjang msh banyak klasifikasi yg laen ya hehe

  3. 3

    wah jadi serba salah, di satu sisi ini menyedihkan, tapi di sisi lain menyenangkan juga.. karena orang lebih suka yang senang2, makanya di negara kita yang kayak begini gak diberes2in, didiamkan saja supaya kita pada senang

    hehe bener skali. Yg jelas sih asal jgn sampe mencelakakan org aja :)

  4. aburifqi #
    4

    Aku jadi ngebayangin si TIGIS pakai seragam SUPERMAN sambil senyum-senyum. Tapi tentu tak lupa harus pakai topi warisan engkongnya …… :)

    sayang, sampe skrg gue msh menganggap celana dalam itu hrsnya dipake di dalam, bukan di luar hehe

  5. 5

    mo komen tapi yaah….. dah keduluan si nona natazya deh :roll:

    btw kalo loe mau ngerasain bebas menyeberang tanpa harus tengok kiri-kanan, itu di Malioboro Jogja (mirip juga di Vietnam). Malahan kalo tengok kiri-kanan, ndak bakalan bisa pernah nyebrang, rame teruuuus. Bahkan kalo nyebrangnya ragu2 wah… bisa berbahaya krn bikin bingung sopir2 n motor2 yg lewat

    wah ceritanya sehati nih ama Nata :D hehe belon pernah tuh gue ke malioboro. Kapan2x deh :)

  6. 6

    “Silakan buang sampah di tempat yang anda suka.”

    sejujrunya sy suka orang orang yg terburuburu dan oportunis. Mereka terlihat lebih ‘hidup’. Lebih liat bergerak dlm satu insting setiap mahluk : demi bertahan hidup. Jadi sy juga suka orang yg ngebut di jalan

    Tapi kalau sampe menembus lampu merah seperti supir angkot super ngk bermoral banget tuh mahluk

    (ps : biasanya supir kayak gitu orang batak, dan pengumuman sy batak, jadi ini halal krn otokritik hahaha).

    hehe betul, intinya sih sbetulnya bukan di ngebutnya, tapi potensi merugikan org laennya. Kalo di sini sopir angkot yg batak kyknya jmlhnya ga dominan deh. Rata lah, ada batak, ada padang, ada timor, ada jawa. Cem-macem :)

  7. 7

    kalo gue jadi clark kent, bukannya ngebantu penyeberang jalan, tapi ngebabat orang2x yg gak mau pakai otak. buang sampah dari mobil, tak angkat mobilnya, buang ketempat smapah

    aku sering liat di batam, orang2x spore kalo kesana suka merokok sembarangan, buang sampah sembarangan. pdhl di negaranya mereka disiplin. di indo gak dihukum sih

    kalo kamu cocoknya jadi supergirl atawa wonder woman kali ya :) Buang mobil ke tempat sampah ? langsung masuk koran internasional deh hehe. Iya tuh, jadi serasa pindah ke surga kali ya

  8. Ika #
    8

    Waduh saya miris kl ada yg suka ngara kita justru krn kburukannya..hhh..

    hehe iya bener

  9. 9

    dimana-mana rumput tetangga lebih hijau,,rumput sendiri gersang melulu :)

    orang2 asing lebih suka tinggal disini karena ragam budaya dan seninya,,seni hidup di Indonesia yang pake jam karet, pipis sembarangan, nyerobot antrian,,gelantungan di bis ato kereta,,bener2 asik tinggal di Indonesia :)

    mungkin emang suasana begitu cocok dgn karakter nyantainya bangsa kita ya :)

  10. 10

    Great post.. great post..
    Aku jadi inget setelah Sigit nulis bahwa Indonesia adalah WC terbesar di dunia..aku pernah bilang ke istriku.. Indonesia adalah tempat sampah terbesar di dunia..

    harusnya masuk ke buku rekor ya hehe

  11. C.Ronaldo #
    11

    Gua juga ji2k kalo liat cowo pipis sembarangan.
    Tapi kok, gua blm pernah liat cewe pipis sembarangan ya. Gua sediain deh tmptny d depan rumah, haratis…^_^

    hehehe dasar lo. Ketauan nyonya bakal abis lo :)

  12. 12

    Nothing’s perfect. :)
    Jadi harus menerima segala kekurangan n kelebihan yang ada… But, always thinking how to improve, walau butuh waktu lama ..

    siiiippp. Smentara ikutan mereka aja kali ya hehehe

  13. 13

    hayu mana screenshot orang pipis itu bro
    kalau ndaka da berarti basbang :D

    hehe kyknya baru skrg lo minta skrinsot. Mintanya org pipis lagi :P :) Btw, andaikan bawa kamera pun ya jelas ogah lah motret2x org pipis men :)

  14. 14

    terpaksa saya menjadi opportunis aja mas, daripada sakit hati :-D
    indonesia enaakkk hehe.. enak tapi kadang ngawur

    hehehe iya, pilihannya akhirnya ya jatuh ke situ :)

  15. 15

    “Bukan pemandangan yang luar biasa apabila ada sebuah mobil mewah melintas di depan kita lalu menerbangkan “sesuatu” dari jendelanya yang sedikit terbuka ke jalan raya. Sesuatu itu bisa bermacam-macam. Bisa kulit rambutan, kulit duku, kertas tissue, puntung rokok, sampai gelas air mineral.”

    ini gak elu tambahin?.., orang juga bisa dilempar dari mobil.

    punya pengalaman dilempar dr mobil ya hehe

  16. 16

    hehe……..he…….

    halo Yopi, hehe juga :D

  17. 17

    Bingung jadinya…………………..

    jangan bingung2x bro Fajar :mrgreen:



Your Comment