Waktu Berbuka Puasa
Menyambung tulisan tentang Sahur dan Imsak, sekarang saatnya gue berbagi beberapa hadits tentang waktu berbuka puasa. Masih diambil dari buku Sifat Puasa Nabi alias Shifat Shaum an Nabiy fii Ramadhan karangan Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah SAW bersabda :
“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah SAW bersabda :
“Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu bintang ketika berbuka (puasa).” (HR Ibnu Hibban)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
“Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.” (HR Abu Daud, Ibnu Hibban)
Dari Anas bin Malik :
“Adalah Rasulullah berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah, bahwasannya Nabi SAW bersabda :
“Tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang yang puasa ketika berbuka, Imam yang adil, dan doanya orang yang didhalimi.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)
Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa, akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)
Semoga kita semua dapat mengambil nilai dan hikmah dari pesan Rasulullah di atas. Amin.
Met pade puase yeee











Selamat menunaikan ibadah puasa pak.. Mohon maaf lahir batin..
sama-sama pakde
“orang yang puasa ketika berbuka”
itu maksudnya apa sih,coy ? kayaknya pernah dengar, pd saat berbuka,kita hrs buka meski dg air seteguk.
mksudnya org yg berdoa saat berbuka puasa pren. Keliatannya dgn kalimat begitu ada penekanan bhw org yg telah berpuasa lalu saat adzan maghrib ia berbuka dan berdoa, doanya mustajab banget. Buat ngebedain dgn org yg ikut berbuka tp kagak puasa
Iya kalo tuntunan dr Rasulullah berbuka persis saat adzan maghrib adl yg terbaik, kalo nunggu2x lama malah ngga baik. Kalo bukanya dgn apa ada di hadits di atas, korma atau air yg paling bagus. Wah kyk uztadz ya gue
Mari kita buka puasa bareng git….eh belom yah….kecepetan gw
…. met puasa, mohon maaf lahir n batin
huehehe tp emang bakal elo yg buka duluan In. WIB kan lebih lambat ketimbang WAA (wkt aussie bagian aborigin)
Sama-sama ya In. Ati2x en jaga diri baek2x di sana
Mata kadang salah melihat
Mulut kadang salah mengucap
Hati kadang salah menduga
Maafkan segala kekhilafan yang pasti ada
Mohon maaf lahir dan Bathin
Selamat Berpuasa, gis..
sama-sama ya Ryane. Smoga puasa kita semua diterima oleh Allah SWT. Btw, slama puasa jgn sering2x ke godiva cari hotspot, n’tar laper huehehe
Nah Pas Ramadhan banyakin posting kayak gini yach…
hehe kita mah tergantung sumbernya aja. Tapi emang sih uda diniatin biar rada nyambung
mas sigit maaf ya kalo selama saya maen ke sini banyak bikin acara, sering ngrepotin, sering koment aneh2 (udah dari sononye beginih)
sering hatrix, sering ngabisin tempat,,hehe
mohon maaf lahir bathin, maafkan segala kesalahn walau kita belom pernah ketemu, salam buat keluarga, selamat menjalankan ibadah puasa, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dan keridho-an buat kita semua, amin
hehehe mau komen quadrapole jg boleh koq. Iya sama2x ya mbak Yella. Met puasa juga. Smoga puasa di bogor jadi puasa yg paling enak deh. Khusyu dan mulus terus. Makasi doanya ya mbak Yella
Bukan WAA tapi WC..Waktu Clayton…kekekeke
huehehe koq malah lebih parah In
hotspot dirumah ajaaa weeee..
sambil tiduran malah (lohh?!)
wah berarti usaha wifi sendiri yah
Subhanaallah…
Mas sigit…dirimu semakin keren saja…
Alhamdulillah…..alhamdulillah
muka gue jadi merah nih dibilang keren
Happy Fasting!
Mohon maaf lahir batin
sama-sama ya mbak. Mohon maap lahir bathin juga
mampir … belajar ngaji
tentang hadist yang berkaitan dengan puasa
silakan jeung, silakan duduk, tp maaf ya ngga dikasi hidangan apa2x. Cuman dikasi lagu backsound doank
Saya cadangkan anda sediakan waktu solat [berbuka/imsak] sepenuhnya sebulan bulan Ramadhan bagi semua negeri seluruh Malaysia. Semoga anda diberkati Allah
makasi telah berkunjung pak. Tapi maaf, artinya cadangkan itu apa ya pak, msh belum paham :mrgeen: Anyway, thx buat doanya pak. Smoga bapak T.M Rahman jg diberkati oleh Allah.
selamat berpuasa,semoga sihat selalu.
met puasa jg buat pren Aizat. Smoga sehat wal afiat juga
Kapitalisme Pahala
Saya melakukan eksperimen terhadap sebuah formula pahala yang lazim dikenal, yaitu:
Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.
Eksperimennya berjalan seperti ini.
Suatu hari seorang teman saya satu kos-kosan berpuasa. Saya mengenalnya sebagai orang yang baik, ramah, penolong, jujur, saleh, rajin sholat, dan berkecukupan. Tentu ketika dia berpuasa, puasanya itu dilakukan dengan kesungguhan dan niat yang tulus. Dia orang mampu, bukan orang yang berpuasa–seperti beberapa mahasiswa di kos-kosan kami yang lain waktu itu–karena uang kiriman habis atau karena dihabiskan untuk berjudi (entah judi kyu-kyu atau sepakbola).
Dalam benak saya, pahalanya pasti besar, lalu saya teringat dengan formula di atas. Kalau saya nanti memberi atau membelikannya makanan untuk berbuka puasa, tentunya saya akan mendapatkan pahala yang sama. Ah, kesempatan baik. Kapan lagi saya bisa mendapatkan pahala sebesar itu? Disiplin tidak punya. Ketulusan relijius tidak terpelihara. Niat baik bertaqwa tidak ada, ketahanan untuk menahan lapar, haus, dan nafsu apalagi. Tapi, di kantung saya, ada beberapa ribu uang kiriman ekstra yang bisa saya gunakan untuk membelikan makanan buka puasa. Alhamdulillah, ternyata jalan menuju pahala dan kebajikan tidak seterjal dan seberliku yang saya bayangkan.
Jadi saya sudah siapkan rencana untuk menyiapkan atau membelikan makanan berbuka bagi kawan saya yang alim ini.
Menunggu adalah pekerjaan yang paling mengesalkan. Apalagi menunggu kesempatan mendapat pahala ‘murah meriah’ pada saat azan magrib berkumandang. Buat kawan saya yang sedang kelaparan dan kehausan itu, menunggu dilakukannya dengan tidur siang. Sebagai seorang ‘investor pahala’ tentu saya tidak mau pahala yang saya dapatkan nantinya berkurang nilainya karena puasa kawan saya ini diisi terlalu banyak tidur. Ketika dia mulai terlelap, saya pukul bangku dikamarnya dengan keras. Blarrr! Dia kaget, terbangun dan sedikit gusar, tetapi tetap menahan sabar. “Ada apa?” katanya. “Jangan tidur, puasa kok tidur, mana tantangannya?” Lalu dia menggerutu tidak jelas dalam bahasa ibunya, tidak tidur lagi, dia kemudian membaca diktat kuliah.
Lalu saya pikir, orang yang berpuasa sambil berjalan-jalan ke pasar atau malah ke lokalisasi pelacuran, ke tempat-tempat dengan godaan dan tantangan yang begitu tinggi tentunya akan menghasilkan pahala lebih tinggi daripada yang berpuasa sambil membentengi diri dengan kebajikan atau menjauhkan diri dari kemaksiatan. Puasa dengan taktik ‘menghindar’ adalah puasa anak TK, puasa for beginner, menurut saya. Saya harus memberikan tantangan yang lebih besar lagi, demi meningkatkan mutu pahala yang bisa saya dapatkan nantinya, ini murni pemikiran untung-rugi investasi pahala.
Lalu, di kamarnya, di komputernya, saya putarkan VCD porno. Murni hanya sebagai tantangan. Buat saya menonton film porno berjamaah sungguh tidak menaikkan birahi dan tidak bermanfaat kecuali sebagai sarana bersosialisasi dengan khalayak berselera rendah yang lain. Film porno bagi saya hanya bisa berfungsi jika ditonton secara privat. Kali ini film porno saya mainkan dalam fungsi yang lain: meningkatkan pahala puasa seseorang.
Teman saya yang berpuasa kaget, sempat menegur saya dengan jengkel, “Kamu kan tahu saya sedang berpuasa….” Saya jawab, “Tentu, dan ini agar pahalamu bertambah, karena puasamu jadi lebih tertantang dan teruji. Biarlah dosa memutar VCD maksiat ini saya tanggung sendiri.” Dia lalu melengos keluar, mengambil air wudhu dan sholat Ashar di kamar saya.
Matahari makin menggelincir ke barat. Tak sedetikpun kawan saya ini saya lepaskan dari tantangan dan godaan. Mulai dari menghamburkan segala celaan sampai mencuranginya dalam permainan kartu truf secara brutal, membiarkannya dengan sabar mengocok kartu.
Akhirnya, ketika azan magrib menjelang dalam hitungan menit, ia datang dan menyampaikan niatnya meminjam sepeda saya. “Jangan,” kata saya, “kamu kan seharian belum makan, nanti lemas, bahaya.” Lalu saya boncengi dia bersepeda ke warung pilihannya. Dia berbuka dengan sepotong pisang goreng yang hangat dan harum baunya, satu gelas es teh manis, lalu sepiring nasi putih yang masih berasap, sepotong sayap ayam bakar kecap, dan semangkuk sup jagung. Saya hanya memesan segelas es teh, belum waktunya makan malam buat saya.
Lalu kami mengobrol, sambil merokok, dan ketika tiba waktunya pergi, saya bergegas mendahuluinya ke kasir lalu membayar semua makanan dan minuman. “Lho….” dia terheran-heran. Mana pernah saya berbaik hati membayari makanan orang lain, bahkan kepada pacar sendiri (lebih jelasnya, saya tidak pernah punya pacar karena menghindar kewajiban membayari makannya dalam kencan, ini memang bukan peraturan resmi, tapi sejenis konvensi tak tertulis. Saya berusaha mencari pacar yang justru membayari makan saya dalam kencan, tapi tidak pernah dapat).
Saya diam saja. Lalu di parkiran warung, saya katakan, “Kamu kan sudah makan, sudah ‘isi bensin’, gantian, sekarang saya yang dibonceng, kamu nggenjot.”
Masih didera penasaran, setiba di kos-kosan, kawan saya bertanya kenapa tumben saya berbaik hati membayari makan buka puasanya. Lalu saya jelaskan skema investasi pahala yang saya operasikan sepanjang hari.
“Bajingan!” Itulah komentar pertama dari mulutnya yang tidak lagi berpuasa.
“Tapi kamu tidak kehilangan apa-apa, pahalanya tidak dibagi dua, ini jaminan dari Nabi. Saya hanya memanfaatkan ekstra, bonus, apalah namanya….” demikian saya berupaya membendung kekesalannya.
“Modal nggenjot berangkat, sama berapa ribu perak aja minta pahala sama.”
“Lho, tapi kan saya ikhlas. Kamu juga yang ikhlas dong, kalo nggak nanti malah pahalamu yang berkurang. Saya kan sudah ikhlas mbayari buka puasa.”
“Gue ganti aja dah duitnya, gue bayar sendiri aja.”
“Nggak bisa! Mending dapet pahala daripada duit. Duit gampang dicari, pahala puasa kayak gini yang susah nyarinya jaman sekarang.”
“Brengsek. Lu emang kapitalis curang. Pahala dikira dagangan apa?”
“Ape kate lo aje deh.”
Nah demikianlah sebagian gerutuan dan sesekali makian yang berjalan lewat waktu isa, sepanjang pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan TV, sampai tiba waktunya sahur lagi. Dia pergi sendiri berangkat sahur dengan motor, tak lagi meminjam sepeda saya untuk ke warung. Mungkin enggan berbagi pahala dengan sepeda saya.
Saya juga tidak terlalu peduli. Jaminan Nabi untuk dapat pahala sama hanya pada memberi makan orang yang berbuka, bukan yang sahur.